Friday, April 5, 2013


Sinopsis Love Rain Episode 8

Hujan mulai turun. Yoon-hee membuka payungnya sedangkan In-ha meninggikan kerah bajunya. Mereka berdua akan menyebrang dengan arah yang berlawanan. Saat mereka berpapasan, deegg!! In-ha mengenali wajah itu. Dia lalu mengikuti wanita berpayung kuning itu dari seberang jalan. Setelah menemukan zebra cross, In-ha berlari untuk menyebrang.
Yoon-hee yang sedang berjalan tiba-tiba berhenti karena ada seseorang berdiri di depannya. “Apakah itu kau? Kau benar-benar masih hidup?”tanya In-ha. Yoon-hee kaget sekali saat melihat orang dihadapannya.
Joon dan Ha-na yang kehujanan berteduh sambil mengobrol. Ha-na bertanya apa yang ingin Joon katakan. “Aku ingin kita mengakhiri semuanya di sini. Dan mari kita mulai dari awal.”jawab Joon. Ha-na terdiam mendengarnya, mulai dari awal untuk apa?. Joon bingung menjawabnya, itu.. “Mengapa kau terus menelfonku? Aku tidak menjawab telfonmu tapi mengapa kau terus menelfonku?” Joon ngeles. Dia juga menyinggung masalah Ha-na yang datang ke studio, “Apa kau sangat membutuhkan pekerjaan?”tanyanya. Ha-na juga agak bingung menjawabnya, “Aku tidak suka saat terakhir ketika kau pergi.” jawab Ha-na. Joon tersenyum, dia menganggap kalau Ha-na berarti tidak ingin semua itu berakhir. Ha-na tidak percaya apa yang dikatakan Joon. “Aku tahu, di mana lagi kau bertemu dengan orang sepertiku?”lanjut Joon. (Pede bener ni orang). Ha-na yang udah eneg denger omongannya Joon mengambil payung di tasnya, lalu pamit pergi.
Joon menahan Ha-na, “Bagaimana denganku?”tanya nya. Ha-na menyuruh Joon menelfon seseorang. Joon masih tetap memegangi Ha-na. Dia lalu memandangnya dengan tatapan penuh arti. “Aku akan bersikap baik padamu mulai dari sekarang.”. Ha-na bertanya mengapa Joon melakukan itu? Lalu tiba-tiba ponsel Ha-na berdering. Joon ngomel dengan ringtone ponsel Ha-na yang menurutnya annoying. Ha-na beralasan dia tidak bisa mendengar ponselnya saat sedang bekerja kalau ringtone ponselnya tidak seperti itu. Joon juga mendapat telepon. Ha-na mendapat telepon dari ibunya, dan Joon mendapat telepon dari ayahnya.
Yoon-hee menelfon Ha-na mengabarkan kalau ibunya mungkin akan telat datang lalu menyuruh Ha-na pergi sendiri. In-ha menoleh ketika Yoon-hee menyebut kata ibu. Yoon-hee menjelaskan kalau dia baru saja menelfon putrinya yang bersekolah. Yoon-hee dan In-ha berbincang-bincang sebentar.
In-ha bertanya kapan dia kembali dari Amerika? Selama ini In-ha berfikir kalau Yoon-hee sudah meninggal. Yoon-hee menjawab kalau dia kembali sudah 10 tahun yang lalu. “Kenapa kau tidak mencariku? Saat aku berfikir kau sudah mati, itu sangat sulit bagiku. Akan lebih baik jika aku tahu kau masih hidup.” Yoon-hee tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya berkata sering melihat berita tentang In-ha dan keluarganya dari majalah. Dia juga tahu In-ha menikah dengan Hye-jung. “Kau tampak bahagia, itu sudah cukup bagiku.” Yoon-hee berkata kalau dia juga bahagia. “Maafkan aku, untuk tidak mengatakan aku masih hidup.”kata Yoon-hee. In-ha hanya diam saja.
Joon mengikuti Ha-na yang sedang mencari tempat tinggal. Joon mengeluh kenapa jalannya menanjak sekali. “Kalau begitu kenapa kau mengikutiku?”jawab Ha-na. Joon bertanya lagi apa Ha-na ingin berjalan seperti ini setiap hari? ”Tentu saja karena Ha-na gendut.”kata Joon. “Apa???” Ha-na ngambek.
“Menurutmu mengapa aku mengikutimu? Aku sudah bilang aku akan bersikap baik padamu.”kata Joon. “Kau sebut ini bersikap baik?”tanya Ha-na sambil menunjukan pundaknya yang kebasahan. Joon hanya berkata kalau baju Ha-na boleh basah tapi tidak dengan bajunya. Ha-na langsung memegang payungnya, “Tapi ini adalah payungku.”
“Oke.”kata Joon tanpa babibu.
Joon berkata kalau dia sangat benci hari hujan, berkebalikan dengan Ha-na yang sangat suka hujan. Karena saat hujan dia dan ibunya selalu bermain-main di luar, “Jadi aku punya banyak kenangan indah saat hari hujan.” kata Ha-na. Joon mengungkit lagi soal cinta pertama ibu Ha-na yang ingin ditemui Ha-na di Jepang. Ha-na berkata dia sangat ingin mempertemukan ibunya dengan orang itu, karena ibu Ha-na sedang sakit. “Mengapa aku bicara seperti iini? Ini adalah rahasia!”kata Ha-na lagi.
In-ha dan Yoon-hee berpamitan. In-ha bertanya apa dia bisa bertemu dengan Yoon-hee lagi. Yoon-hee tidak ingin mereka bertemu lagi, karena masing-masing dari mereka sudah bahagia dengan hidupnya. In-ha berbalik menjauh, tapi lalu dia berhenti dan kembali. Tapi Yoon-hee sudah tidak ada di tempat tadi. In-ha mencari di sekeliling tapi tidak menemukannya. Sementara Yoon-hee masuk ke sebuah apotik di tempat tersebut. Yoon-hee berjalan di belakang In-ha. Mereka berdua saling membelakangi dan tidak melihat.
Si empunya rumah memperlihatkan kamar untuk Ha-na. Ruangan itu sempit sekali dengan atap yang sangat rendah. Ha-na agak tidak nyaman dengan ruangan itu, dia menoleh ke Joon yang menyuruhnya keluar. Pemilik rumah menawari Ha-na kamar yang lain, kamar dengan kamar mandi dan wastafel. Joon masih menganggap tempat itu terlalu kecil. Si pemilik rumah berkata, memang agak kecil untuk dua orang yang tinggal bersama. Pemilik rumah bertanya apa mereka pengantin baru? Joon dan Ha-na langsung mengelaknya.
"Kalau begitu apa kalian pasangan tanpa pernikahan?"
“Aapa??” Joon langsung terbelalak.
Mereka berdua pergi ke tempat lain, Joon tetap tidak suka ruangannya. Dan di luar dia melihat seorang pria. Joon lalu mengajak Ha-na keluar. Ha-na bertanya mengapa Joon seperti itu?. “Ada seorang pria yang mengintip. Bagaimana bisa seorang gadis tinggal di tempat seperti itu?”kata Joon. Ha-na mengeluh karena dia belum menemukan pekerjaan, dan bahkan kalau dia menemukan tempat tinggal, hanya tempat seperti itu yang bisa dia sewa. Joon berkata akan menemukannya. Dia akan menemukan pekerjaan untuk Ha-na dan juga tempat tinggal untuknya. Ha-na tidak percaya dengan omongan Joon. “Karena aku akan bersikap baik padamu.”kata Joon lagi. Ha-na benar-benar heran dengan sikap Joon ini, dia mengatakan ingin mulai segalanya dari awal, bahkan ingin bersikap baik pada Ha-na. Joon bertanya apa Ha-na bodoh? Tidak tahu apa sebenarnya tujuannya mengikuti Ha-na? Saat Joon akan mengatakan sesuatu, ponsel Ha-na berdering. (Apa yang sebenarnya ingin Joon katakan? ‘Aku menyukai mu’?)
Ternyata yang menelfon adalah Tae-seong. Ha-na tidak langsung menjawabnya. Joon melihatnya dan merebut ponsel Ha-na. Joon bertanya apa orang ini begitu spesial? Apa Ha-na berpacaran dengan Tae-seong? Ha-na berkata tidak. Joon langsung mematikan ponsel Ha-na. Ha-na ngambek kenapa Joon sembarangan mematikan ponsel orang. Joon melihat ekspresi Ha-na. “Kau ditolak? Kau benar-benar ditolak? Bagaimana mungkin kau ditolak oleh orang seperti dia?”tanya Joon. Ha-na diam saja, kesal melihat tingkah Joon.
“Aku memintamu untuk memulai kembali denganku lagi, kan? Bahwa aku akan bersikap baik padamu, itu berarti bahwa aku tertarik padamu. Sudah lama aku tertarik padamu, setelah kembali ke Korea. Bahkan ketika aku melihatmu lagi.”kata Joon. Ha-na bertanya mengapa itu terjadi? Joon berkata dia juga tidak tahu, oleh karena itu dia ingin tinggal bersama Ha-na sampai dia tahu apa sebabnya. Joon lalu pamit, dia tidak akan mengganggu Ha-na untuk mencari tempat tinggal lagi. “Aku akan melihatmu saat pemotretan. Jangan terlambat!!” kata Joon lalu pergi.
Setelah jauh, Joon menarik nafas dan mengelus dadanya. Tapi dia grogi banget kali ya saat mengungkapkan isi hati.
Joon tiba di rumah Sun-ho. Barang-barang Joon sudah ada di sana. Joon berkata dia akan pindah sementara dari rumahnya. Sun-ho berkata kalau ibu Joon pasti tidak akan membiarkannya. Sun-ho bertanya ada apa. Joon bercerita kalau ibunya ingin ayahnya kembali. “Aku ada di Amerika saat mereka bercerai. Jika mereka kembali bersama, aku lebih baik pindah dan tidak kembali.
Joon bertanya kapan adik Sun-ho kembali ke Korea, dia meminta Sun-ho jangan memberitahunya kalau dia pindah ke rumah Sun-ho. Sun-ho berkata kalau adiknya minggu depan baru kembali, “Kenapa? Apa kau takut dia juga akan pindah ke sini denganmu?”. Joon mengiyakan. Lalu dia melihat satu kamar lagi. Joon meminta ijin Sun-ho untuk menyewakan kamar itu (Ya tentu saja itu untuk Ha-na).
Di sebuah taman, Ha-na berpikir mengapa Joon melakukan itu? Ha-na punya banyak teori tentangnya, tapi yang paling dia percayai adalah bahwa Joon hanya ingin mengerjainya saja. Tae-seong menelfon lagi, Ha-na tetap tidak mau mengangkatnya.
Yoon-hee sudah berada di rumah. Dia sedang membuka-buka lagi diary nya.
Dong-wook yang sedang bertugas di rumah sakit datang dengan tergesa-gesa menemui In-ha. In-ha memberitahu Dong-wook kalau dia bertemu Yoon-hee. Yoon-hee masih hidup. Dong-wook juga kaget mendengarnya. Dong-wook bertanya kabar Yoon-hee. In-ha menjawab Yoon-hee terlihat sangat bahagia, jadi dia harus membiarkannya pergi. In-ha mengatakannya dengan sedih.
Ha-na melihat ibunya yang sedang duduk merenung di sebuah rumah kaca. Ha-na mendatanginya. Dia menanyakan keadaan ibunya, karena terakhir kali ibunya tidak bisa menemuinya karena sakit. Yoon-hee menyampirkan selimutnya ke badan Ha-na. Yoon-hee berkata dia tidak apa-apa. Dia juga bertanya apa Ha-na mencari tempat tinggal sendirian? Ha-na mengaku kalau dia tidak sendirian. Ibunya penasaran siapa yang menemaninya, Tae-seong sedang di pulau Jeju. Ha-na berkata kalau itu bukan teman, hanya seseorang. “Siapa? Laki-laki?”tanya Yoon-hee lagi.
“Ya, dia laki-laki, tapi...itu tidak seperti itu.”. Ha-na langsung memotong kata-katanya sendiri setelah melihat pandangan ibunya. “Ini tidak seperti itu... aku tidak tahu, dia hanya aneh saja. “. Ibunya masih penasaran siapa orang itu, “Aku berharap bisa bertahan sedikit lebih lama, aku ingin melihat kau menikah. Aku ingin melihat kebun buatanmu. Aku ingin melihat itu semua.”. Ha-na menyuruh ibunya tidak bicara seperti itu. Yoon-hee berkata kalau dia tidak ingin menjadi beban untuk Ha-na. Wajah Ha-na berubah muram mendengar perkataan ibunya. “Baiklah, aku akan berhenti. Aku akan berhenti.” kata Yoon-hee yang melihat Ha-na yang hampir menangis.
In-ha ada di persimpangan jalan. Dia lalu memutuskan untuk pergi menemui Yoon-hee. Yoon-hee sedang membereskan kebunnya saat In-ha datang. Yoon-hee kaget melihatnya. Dengan perlahan In-ha mendekati Yoon-he dan setelah berhadapan, In-ha langsung memeluk Yoon-hee. Yoon-hee pun membalas pelukannya.
Mereka berbincang di dalam rumah. In-ha berkata kalau dia tidak bahagia. Tanpa Yoon-hee dia selalu sedih. Dan karena tidak ada Yoon-hee, kehidupan In-ha sedih dan malang. “Aku merasa seolah-olah waktu berhenti di pantai itu saat kita berjalan bersama-sama.”kata In-ha. Dia juga berkata kalau dia sudah berpisah dengan Hye-jung. In-ha berkata kalau dia tidak ingin kehilangan Yoon-hee lagi, tidak ingin melepaskan Yoon-hee lagi.
Yoon-hee berkata dia mencintai suaminya dan anak perempuannya. Dia ingin mereka bahagia, jadi dia tidak bisa mengabulkan permintaan In-ha, “Aku minta maaf.”.
“Jangan pernah mengucapkan maaf, aku tidak akan pernah mau mendengarnya.”.
Yoon-hee merenung memikirkannya.
Hye-jung sedang rapat di kantornya. Bawahan Hye-jung memberi laporan kalau perempuan itu (Yoon-hee) bekerja di kebun sebuah resort, dan suaminya sudah meninggal sejak lama. Hye-jung kaget mendengarnya. Dia langsung menelfon In-ha, tapi tak ada jawaban.
In-ha pergi ke pantai kenangannya. Mengingat saat dulu dia bersama Yoon-hee.
Hye-jung pergi ke tampat Chang-mo. Hye-jung sangat stress dengan kepergian In-ha. Hye-jung mulai minum-minum lagi. Chang-mo mengingatkan Hye-jung agar jangan minum-minum lagi, karena itulah Joon dan In-ha pergi. Hye-jung berkata kalau Yoon-hee sudah menjadi janda. Chang-mo kaget mendengar Hye-jung menyelidikinya. Hye-jung juga berkata dia tidak akan pernah mengatakan pada In-ha kalau Yoon-hee masih hidup.
Ha-na datang ke studio, semua orang sedang sibuk bersiap-siap. Ha-na sudah berganti baju dan berdandan, dia juga diminta berpose oleh pengarah gaya, tapi gaya Ha-na masih sangat kaku. Joon masuk ke studio dan terkesima melihat Ha-na yang berdandan cantik. “Ayo kita lakukan pemotretan!” (Kaget dia melihat wajah Ha-na yang didandanin dengan cantik.)
Pemotretan berlangsung, Ha-na benar-benar gugup dan belum pernah melakukan pemotretan sebelumnya. Joon berkali-kali mengambil foto Ha-na akhirnya kesel sendiri. Dia menyuruh Ha-na senyum, tapi senyumnya maksa banget. Joon akhirnya berhenti sebentar dan memainkan musik. Joon menyuruh Ha-na mengikuti musiknya, dia malah nari-nari gak jelas. Semuanya tertawa. Emosi Joon udah sampe ubun-ubun, dia kesel dengan Ha-na dan membentak Jo Soo. Joon membuka-buka majalah bersama Ha-na, di majalah itu dia mencari-cari inspirasi gaya.
Mereka semua istirahat sebentar untuk makan siang. Ha-na meminta maaf karena dirinya semua orang jadi susah. Jo Soo membesarkan hati Ha-na, tidak apa-apa karena Ha-na baru pertama kali di potret, dan dia juga bukan model profesional. Jo Soo bertanya, “Bukankah Joon terlihat ganteng hari ini? Dia berusaha keras untuk menunjukan kehebatannya.”. Ha-na menoleh ke Joon. Joon yang dari tadi masih mendengarkan Ha-na ngobrol dengan Jo Soo jadi berubah seperti sedang memikirkan pemotretan. Hahaha.
Ha-na berganti baju kedua, semua orang terkesan dengan kecantikan Ha-na saat memakai baju itu. Joon memulai memotretnya lagi, tapi Ha-na tetap belum terbiasa dengan foto. Joon kesal lalu menyuruh semua krunya untuk keluar, akhirnya hanya tinggal Joon dan Ha-na. Ha-na bertanya mengapa Joon melakukan itu?. “Bagus kan? Hanya ada aku saja, ini bisa membuatmu merasa nyaman.” Joon memotret Ha-na sambil berbincang-bincang. Joon memotret ekspresi Ha-na saat mengobrol (Joon memang fotografer jenius). Ha-na kaget saat mereka sudah selesai, dia juga memuji Joon. “Kau, benar-benar cantik.”kata Joon. Lalu mengambil gambar Ha-na saat dia kaget.
Jo Soo, Ha-na dan yang lain melihat hasil foto Joon. Semua terpesona dengan hasilnya. Joon juga bangga melihat hasil fotonya. Ha-na tidak percaya kalau itu foto dirinya. “Pekerjaanku itu mahal. Inilah mengapa kau harus merasa terhormat.”kata Joon. “Dia sangat hebat pada apa yang dia lakukan. Jika kepribadiannya bisa sedikit lebih baik, itu akan menjadi lebih baik.”kata Jo Soo hanya pada Ha-na. Ha-na membenarkan.
Ha-na senang sekali mendapat bayaran. Dia sudah berganti baju lagi, memakai bajunya yang lama. Joon yang melihatnya mencela baju Ha-na, dia lalu menyuruh Ha-na ganti baju dengan baju-baju yang dia pakai tadi. Ha-na menolaknya karena baju-baju itu sangat tidak nyaman. “Itulah fashion.”komentar Joon. Sun-ho membela Ha-na. Ha-na melakukan pekerjaan kebun, tentu saja dia harus berpakaian nyaman. Joon tidak percaya, “Biarkan aku memotretnya dan memperlihatkannya padamu.” Joon mulai mendekatkan kameranya. Ha-na lalu mulai senyum melihat kamera tertuju padanya. Joon terpesona lagi dengan senyuman Ha-na, dia lalu terdiam melihat Ha-na dan tidak jadi memotret.
Ha-na berpamitan dan berterima kasih pada Joon telah memberinya pengalaman yang berkesan. “Kau tidak akan melakukan pemotretan lagi? Itu mengecewakan. Berarti aku tidak bisa melihatmu lagi” tanya Sun-ho. Ha-na mengiyakan sambil memandang Joon.
Joon menghentikan Ha-na saat Ha-na akan pergi. Joon berkata kalau dia melewatkan sesuatu, Joon ingin menemani Ha-na sampai akhir. “Oh itu, kau ingin aku melupakan bahwa aku mendengarnya? Jangan khawatir tentang itu. Aku akan melupakan semuanya.”kata Ha-na. Joon bengong, bukan itu yang sebenarnya ingin dia katakan.
Tiba-tiba ada seorang gadis memeluk Joon. Ha-na langsung berpamitan pergi. “Ah, sepertinya aku benar-benar tidak akan melihatnya lagi.”kata Joon saat melihatt Ha-na pergi.
Joon dengan gadis itu masuk ke dalam rumah, ternyata gadis itu adalah Mi-ho, adik Sun-ho. Mi-ho mengajak Joon makan, tapi Joon menolaknya, dia ingin istirahat. Joon akan pergi ke atas. “Oppa, kenapa kau pergi ke atas bukannya pulang ke rumah? “tanya Mi-ho. Sun-ho kelepasan ngomong soal Joon dan kamar atas. Yang lain juga sudah ngasih tanda kalau Sun-ho gak boleh ngomong macem-macem. Mi-ho langsung ngerti kalau Joon pindah ke situ. Mi-ho juga ingin ikut pindah, tapi Sun-ho mengatakan kalau kamar itu sudah disewa. “Kau bohong.!”kata Mi-ho.
Joon melihat lagi foto Ha-na. Dia lalu menutup laptopnya. “Apa aku sudah gila??”.
Ha-na mencari tempat tinggal lagi. Sun-ho sedang mencoba mendatangi seorang kakek, Sun-ho terus memanggilnya tapi kakek itu tidak menjawab. Ternyata kakek itu kabur. Sun-ho melihatnya lalu buru-buru menyusulnya. Ha-na ada di sekitar situ melihat si kakek yang kelelahan berlari. Ha-na menyuruh kakek duduk. Sun-ho lalu mendatangi mereka dan dengan bantuan Ha-na, Sun-ho mulai memeriksa kakek itu. Si kakek marah-marah karena dia tertangkap.
Ha-na dan Sun-ho mengobrol dahulu sambil minum. Sun-ho bercerita siapa kakek itu. Sun-ho berkata Ha-na boleh meminta apapun karena dia telah membantu Sun-ho. Ha-na berkata kalau minuman itu saja sudah cukup. Ha-na berkata kalau saja taman di tempat Sun-ho dirawat pasti akan sangat cantik. Ternyata taman itu bernama white garden. Ha-na juga bercerita kalau di taman itu ada lily putih yang sangat cantik saat mekar. Ha-na lalu mengambarkan white garden dan bunga-bunga lain yang bisa mereka tanam.
Sun-ho berkata kalau dia bisa memberi Ha-na pekerjaan sebagai tukang kebun kalau dia mau, dan menyewakan kamar kosong di rumah itu.
Di taman, Joon terus saja berhalusinasi tentang Ha-na. Dia melihat Ha-na yang tersenyum di mana-mana. (Mulai kangen sepertinya dia.)
In-ha pulang ke rumah. Di rumahnya, Hye-jung sudah mempersiapkan makanan. In-ha tidak begitu antusias melihatnya. Hye-jung mencoba kembali meraih simpati In-ha. In-ha berkata dia capek sekali dan ingin istirahat, tapi Hye-jung memaksanya.
In-ha akhirnya terpaksa menurut. Mereka berdua makan malam bersama. Hye-jung membicarakan Joon dan Mi-ho. In-ha ogah-ogahan menanggapinya. Hye-jung mencoba membujuknya, In-ha berkata kalau dia benar-benar tidak bersama lagi dengannya. In-ha meminta maaf atas semua yang dia lakukan bertahun-tahun ini. Hye-jung bertanya apa maksud In-ha. In-ha akhirnya berkata kalau dia bertemu Yoon-hee, Yoon-hee masih hidup. Hye-jung kaget, “Bagaimana kau bisa...? apa Chang-mo yang memberitahukanmu?”. In-ha kaget mengetahui Chang-mo tahu tentang Yoon-hee. Hye-jung mengkonfrontasinya, lalu kenapa, ketika kau bertemu Yoon-hee kau menganggap tahun-tahun yang sudah kau habiskan denganku adalah bukan apa-apa?. Hye-jung marah. “Kau bercerai dan Yoon-hee sekarang seorang diri. Yoon-hee pasti tidak masalah.” In-ha sekarang yang kaget mengetahui bahwa Yoon-hee juga sudah sendiri.
Joon sedang melihat-lihat foto-fotonya, tiba-tiba muncul gambar Ha-na. Joon kaget sekali..
Sun-ho masuk memberi tahu bahwa dia sudah menyewakan kamar kosong di rumah itu. Sun-ho memberikan surat perjanjiannya. Surat yang ditulis dengan pensil warna-warni. Joon kaget ternyata yang akan menyewa kamar itu adalah Ha-na. *jeng..jeng..*. Sun-ho juga memberi tahu, selain Ha-na akan menempati kamar di rumah itu, dia juga akan menjadi tukang kebun mereka, tapi Ha-na tidak bisa melakukannya karena Joon. Sun-ho menyuruh Joon membereskannya.
Malam itu juga In-ha pergi, sepertinya akan ke rumah Yoon-hee.
Joon juga datang menemui Ha-na. Ha-na bingung melihat Joon yang terus saja memandanginya. Joon perlahan-lahan mendekati Ha-na. Ha-na bingung melihat tingkah Joon. Ha-na melangkah ke belakang menjauhi Joon, sampai-sampai dia hampir terjatuh. “Dengarkan baik-baik, karena aku hanya akan mengatakannya sekali. Aku, aku rasa aku menyukaimu.”. Ha-na kaget. Lalu ibu Ha-na memanggilnya.
-Bersambung-

Akhirnya In-ha ketemu juga dengan Yoon-hee. Cerita akan lebih seru sepertinya....

No comments:

Post a Comment